SAPI YANG SUCI DAN BABI YANG MENJIJIKKAN

by Stephen K. Sanderson 

 

 


SALAH satu aplikasi perspektif evolusioner materialis yang paling terkenal adalah pemeriksaan yang dilakukan Marvin Harris terhadap asal-usul larangan agama tertentu bagi umatnya untuk memakan makanan tertentu. Harris telah mencurahkan perhatian khusus untuk mencari penjelasan kenapa agama Hindu di India memandang sapi sebagai binatang suci dan menganggap daging sapi sebagai makanan terlarang. Dia juga melakukan studi yang agak menyeluruh terhadap pantangan makan pada bangsa Israel kuno yang melarang orang memakan daging babi karena mereka menganggap babi sebagai binatang yang kotor. Dia yakin bahwa pantangan makan (tabu) ini dapat dipahami dengan sangat baik sebagai respons adaptif terhadap konstelasi kondisi material tertentu yang dihadapi oleh penduduk yang mengikutinya.

Sudah dikenal secara luas bahwa ajaran sentral ideologi keagamaan Hindu adalah penyucian sapi. Sapi dianggap sebagai binatang yang suci, menyembelih dan memakannya adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Bagi kebanyakan orang Barat, pantangan makan ini jelas merupakan mismanagemen sumber daya yang irasional dan merupakan sebab bertahannya kemiskinan dan kesengsaraan yang meluas di anak benua India. Seluruh kegiatan penyembahan sapi dipandang sebagai contoh klasik yang memperlihatkan cara dimana praktek-praktek keagamaan yang bersifat mistik membawa kepada akibat-akibat ekonomi yang tidak perlu dan tidak menyenangkan. Tetapi Harris (1974/1977) tidak memandangnya seperti itu, dan dia percaya bahwa kecintaan orang Hindu kepada sapi adalah respons yang rasional — dan memang, perlu — terhadap keadaan ekologis dan ekonomis di mana mayoritas petani India berada.

Harris menyatakan bahwa sapi memainkan fungsi vital dalam konteks ekologi dan ekonomi orang India, fingsi yang hanya dapat dipertahankan kalau sapi tetap dibiarkan hidup. Kotoran sapi adalah sangat berharga bagi petani India, ia berfungsi sebagai pupuk untuk ladang mereka, sebagai bahan bakar dalam memasak, dan bila dicampur dengan air untuk merekatkan, dapat dijadikan bahan lantai rumah mereka. Tetapi peran yang jauh lebih berguna yang dimainkan sapi adalah sebagai binatang penarik dalam pembajakan ladang. Karena petani India tidak dapat membeli traktor, sapi merupakan satu-satunya alat yang dapat mereka pakai untuk membajak. Sebagaimana dinyatakan Harris secara empatik, para petani India yang pada masa berat tertentu tergoda untuk menyembelih sapi mereka untuk makanan ternyata menyengsarakan mereka sendiri, karena mereka tidak akan pernah dapat membajak lagi. Karena itu, sapi lebih berguna apabila ia hidup daripada mati bagi rata-rata petani India. Namun, karena godaan untuk menyembelih sapi dalam masa kekeringan atau kelaparan adalah problem yang sering muncul bagi kebanyakan petani India, maka perlu bagi mereka menemukan cara untuk menghilangkan godaan tersebut. Cara itu, kata Harris, ditemukan pada pembuatan tabu keagamaan yang menyucikan sapi dan menjadikan tindakan membunuh dan mengkonsumsi sapi sebagai tindakan yang haram dan tidak dapat diterima. Sebagaimana dinyatakan Harris (1977:147):

Pentabuan daging sapi adalah hasil kumulatif keputusan individual dari beribu-ribu dan berjuta-juta petani, sebagian mereka lebih mampu menahan godaan untuk menyembelih sandaran hidup mereka karena mereka sangat yakin bahwa hidupnya sapi adalah sesuatu yang suci. Mereka yang memegangi keyakinan ini lebih mempunyai kemungkinan untuk mempertahankan ladang mereka, daripada mereka yang tidak mempercayainya.… Sapi harus diperlakukan seperti manusia karena manusia yang memakan sapinya hampir berarti memakan orang lain. Sampai sekarang, para petani musiman yang tergoda dan menyembelih sapi mereka menanggung akibatnya. Mereka tidak pernah dapat lagi membajak ketika hujan tidak turun. Mereka harus menjual ladang mereka dan pindah ke kota. Hanya mereka yang menahan lapar dan tidak memakan sapi yang dapat bertahan hidup ketika musim hujan sangat pendek. 

Bagaimana sapi disucikan di India dapat dimengerti secara lebih baik melalui pemahaman perspektif historis. Sebagaimana dinyatakan Harris, dalam sepanjang sejarah India sapi secara teratur dimakan dan tidak ada pandangan menyucikan sapi. Dia percaya baru sejak tahun 700 masehi kecintaan kepada sapi dikembangkan hingga mencapai bentuknya yang dikenal sekarang. Dengan tidak mempersoalkan kapan persisnya sapi mulai disembah di India, kita tahu bahwa para pendeta brahmana “selama berabad-abad adalah pengorban dan pengkonsumsi daging binatang” (Harris, 1977:145). Di bawah kondisi bagaimanakah para pendeta ini berubah dari orang yang mengorbankan sapi secara ritual menjadi orang yang melindungi sapi secara ritual? Harris menyatakan bahwa jawaban pertanyaan ini adalah bertambahnya kepadatan penduduk dan menurunnya standard kehidupan (1977:146):

Ketika kepadatan penduduk meningkat, ladang menjadi semakin sempit dan hanya species binatang ternak paling penting yang dapat dibiarkan hidup untuk mendiami tanah yang ada. Sapi adalah satu species yang tidak boleh dikurangi. Ia adalah binatang penarik bajak, kegiatan yang sangat menentukan seluruh siklus pertanian tadah hujan. Sedikitnya dua ekor sapi jantan harus dipelihara oleh setiap keluarga, dan ditambah seekor sapi betina yang akan melahirkan penggantinya ketika sapi jantannya sudah tidak dapat dipakai. Dengan demikian, sapi menjadi fokus utama pantangan agama untuk memakan daging. Sebagai satu-satunya binatang sawah yang masih tersisa, maka secara potensial sapi adalah satu-satunya sumber daging yang tersisa. Namun, menyembelihnya untuk memakan dagingnya akan melahirkan ancaman bagi seluruh pola produksi makanan. Dan karena itulah daging sapi ditabukan.

Adalah juga umum diketahui bahwa bangsa Yahudi modern melarang memakan daging babi. Memang, sejak masa bangsa Israel kuno, bangsa Yahudi secara resmi memandang babi sebagai binatang yang menjijikkan dan tidak pantas dikonsumsi manusia. Tetapi orang Yahudi hampir tidak seragam dalam penolakan mereka memakan daging babi. Daging babi telah dinikmati selama berabad-abad di wilayah-wilayah seperti Cina dan Eropa, dan banyak anggota masyarakat suku tidak hanya memakan daging babi, tetapi juga menilai sangat penting daging babi, sehingga secara praktis mereka memperlakukannya sebagai anggota keluarga (Harris, 1974). Kalau begitu banyak agama lain tidak menunjukkan keengganan sama sekali mengkonsumsi daging babi, kenapa bangsa Yahudi memperlakukannya sebagai binatang yang jijik?

Barangkali jawaban paling umum atas pertanyaan ini adalah karena babi merupakan binatang yang tidak bersih: ia berkubang dalam kotorannya sendiri dan membawa penyakit. Namun, sebagaimana ditunjukkan Harris (1974/1977), penjelasan ini tidak memuaskan. Babi tidak selalu merupakan binatang kotor manakala ia berada dalam habitat yang sesuai. Karena babi tidak dapat berkeringat, mereka beradaptasi secara lebih baik dengan lingkungan di mana temperatur tidak terlalu panas. Tetapi di lingkungan yang kering dan panas (seperti Timur Tengah), babi sangat kesulitan untuk tetap berada dalam temperatur yang dingin, dan karena itu mereka berkubang dalam kotorannya sendiri untuk mendinginkan badan mereka. Mengenai kenyataan bahwa babi menularkan penyakit tertentu, Harris mengakui bahwa ini benar, tetapi dia juga menyatakan bahwa binatang lain yang dikonsumsi secara luas (seperti sapi) juga membawa penyakit.

Harris percaya bahwa bangsa Israel kuno melarang memakan daging babi karena alasan-alasan yang secara khusus berkaitan dengan ekologi Timur Tengah. Dia menyatakan bahwa mengkonsumsi babi ditabukan karena kehadiran babi menimbulkan ancaman bagi seluruh sistem subsistensi masyarakat Yahudi kuno (Harris, 1977: 132):

Bangsa Israel kuno datang ke Palestina pada awal zaman batu tengah, sekitar 1200 tahun sebelum masehi, dan menempati daerah bergunung yang tidak pernah ditanami sebelumnya. Daerah berhutan di bukit Judean dan Samaritan segera ditebangi dan diubah menjadi petak sawah beririgrasi. Daerah yang cocok untuk berkembang biaknya babi dengan makanan alamiah yang yang sangat terbatas. Semakin banyak babi memakan biji-bijian sebagai makanan pelengkap, membuat mereka secara langsung berkompetisi dengan manusia; bahkan, biaya mereka bertambah karena membutuhkan perlindungan dan hawa lembab buatan. Namun binatang ini terus menjadi sumber protein dan lemak yang menggoda.

Jika babi secara ekologis mahal, namun terus menjadi sumber godaan, maka solusinya, menurut Harris, adalah melarang sama sekali mengembangbiakkan dan memakan babi; dan cara terbaik untuk membuat larangan tersebut kukuh adalah menjadikannya sebagai larangan ilahiyah: sebagai pantangan agama. Untuk menghindarkan ancaman yang berat namun menggoda ini, babi diredefinisikan sebagai binatang yang menjijikkan.

Walaupun teorinya banyak mendapatkan kritik, kemasuk-akalannya dikuatkan secara berarti oleh kenyataan bahwa bangsa Yahudi kuno mengikuti pantangan makan babi bersama banyak tetangga mereka. sebagaimana dinyatakan Harris (1977:135-137):

Pantangan makan babi berlaku di seluruh wilayah nomadisme pastoral Dunia Baru yang luas—dari Afrika Utara sampai ke Timur Tengah dan Asia Tengah. Tetapi di Cina, Asia Tenggara, Indonesia (sebagian kecil warga) dan Melanesia babi merupakan dan masih merupakan sumber protein dan lemak yang banyak dimanfaatkan, sebagaimana di belahan bumi Eropa dan Barat modern. …

Bangsa Israel kuno juga mengikuti pantangan yang menganggap jijik  babi bersama dengan musuh-musuh mereka yang garang, bangsa Mesir …

Dengan munculnya Islam, pantangan makan babi bangsa Israel dimasukkan secara langsung ke dalam seperangkat hukum makan lainnya yang ditentukan hukumnya secara supernatural. Babi secara khusus dihinakan dalam al-Qur’an, dan orang Islam sekarang sebagaimana bangsa Israel Ortodoks dilarang memakan daging babi.

Dengan kata lain, tampak bahwa di kawasan dunia yang panas, kering —wilayah di mana babi sulit beradaptasi dan perlengkapan khusus harus disediakan untuk pengembangbiakannya— daging babi di larang di makan. Sebaliknya, di wilayah dunia yang lebih basah, lebih dingin yang lebih cocok untuk pengembangbiakan babi pantangan makan babi tak dikenal, dan babi seringkali disantap secara bernafsu di wilayah-wilayah ini.

Walaupun sapi dan babi telah merupakan pantangan agama yang berlaku ketat di mana mengkonsumsinya sangat dilarang, pantangan memakan sapi dan babi sangat berbeda; di India sapi dijadikan binatang suci, sementara bangsa Yahudi kuno menjadikan babi sebagai binatang yang menjijikkan. Kenapa kenyataannya harus begini, sekarang telah menjadi jelas, setidaknya jika teori-teori Harris merupakan interpretasi yang sahih. Sapi sangat diperlukan dalam pertanian masyarakat India, dan karena itu ia disucikan. Tetapi babi di kalangan bangsa Yahudi kuno tidak berguna sebagai binatang sawah dan hanya menimbulkan ancaman; sehingga didefinisikan sebagai makhluk yang kotor dan tidak pantas di makan.

 

Referensi*:

Harris, Marvin. Cannibals and Kings: The Origins of Cultures. New York: Random House, 1977. Pandangan yang mendalam tentang peran yang dimainkan faktor-faktor infrastructural dalam membentuk garis besar penting evolusi sosiokultural selama 10.000 tahun. Sebuah sumbangan penting bagi teori evolusioner materialis yang ditulis dengan gaya yang sangat enak diikuti.

Harris, Marvin. Cultural Materialism: The Struggle for a Science of Culture. New York: Random House, 1979. Argumen yang penuh semangat dan sangat persuasif bagi pendekatan teoretis materialis dalam mengkaji kehidupan sosiokultural yang ditulis oleh seorang ilmuwan sosial terkemuka di zaman kita.

Harris, Marvin. Good to Eat: Riddles of Food and Culture. New York: Simon & Schuster, 1985. Sebuah pembahasan provokatif tentang pantangan makanan dan pilihan makanan di seluruh dunia dari perspektif seorang materialis. Berisi diskusi yang sangat informatif dan memikat tentang kebiasaan makan yang berkaitan dengan sapi, babi, kuda, serangga, anjing, susu, dan orang. (versi bersampul tipisnya berganti judul dengan Sacred Cows and Abominable Pigs).



* (Penulisan sumber referensi ini berdasarkan kecenderungan acuan yang dilakukan oleh Sanderson dalam menuliskan “Topik Khusus”-nya ini. Referensi ini di ambil berdasarkan keterangan anjurannya pada para pembaca untuk menelusuri bacaan lanjutan. pen.)


Dikutip dari Sanderson, Stephen K. “Topik Khusus: Sapi yang Suci dan Babi yang Menjijikkan”, dalam Makrososiologi (edisi kedua) (terj.). Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011 (cet. ke-6). Hal. 79-83.




 


Untuk mendapatkan tulisan Sanderson ini (pdf), silakan klik tautan di bawah: 

DOWNLOAD SAPI YANG SUCI-BABI YANG MENJIJIKKAN

 

 

Terimakasih jangan lupa tinggalkan komentar Anda...

 


1. Ansar

pada : 27 August 2015

"Menarik bang kajiannya, ijin download artikelnya"


2. Nugroho Rinadi Pamungkas

pada : 28 August 2015

"Monggo silakan bang. Sama-sama, terimakasih atas kunjungannya"


3. Pio

pada : 30 August 2015

"Agama sudah menjadi tuntunan yg terbaik bagiku. Barangkali sekarang benar menurut logikamu, tp kebenaran agama itu abadi tuk selamanya! Salam"


4. Angel

pada : 29 September 2015

"Tajam, Logis, dan Lebih Bisa Saya Terima Argumennya"


5. taslim

pada : 02 October 2015

"Yang penting iman percayanya jangan luntur. Penjelasan mah bisa dari mana aja"


6. Bagas

pada : 03 October 2015

"Cukup kritis, artikel menarik. "


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

test

    aktifkan javascript dan gunakan browser terbaru untuk tampilan optimal